TUGAS 3
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Manajemen Kelas
Oleh:
SINTA KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas: 7.5 PGSD
Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
MANAJEMEN KELAS
A.
Konsep
Manajemen Kelas
Manajemen merupakan kemampuan dan ketrampilan khusus
yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara
perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya
mencapai tujuan organisasi secara produktif , efektif dan efisien. Sebelum
membahas tentang manajemen kelas, terlebih dahulu kita mengetahui pengertian
daripada kelas.
Arikunto menjelaskan pengertian kelas sebagai
sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari
guru yang sama. Dan yang dimaksud dengan kelas, bukan hanya kelas yang
merupakan ruangan yang dibatasi dinding tempat para siswa berkumpul bersama
untuk mempelajari segala yang disajikan oleh pengajar, tetapi lebih dari itu
kelas merupakan suatu unit kecil siswa yang berinteraksi dengan guru dalam
proses pembelajaran dengan beragam keunikan yang dimiliki. Sedangkan kelas
menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan
dari segi fisik, dan pandangan dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi
juga memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1. Kelas
dalam arti sempit : ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah
siswa berkumpul untuk mengikuti proses pembelajaran. Kelas dalam pengertian
tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan
siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur
kronologis masing-masing.
2. Kelas
dalam arti luas : suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat
sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara
dinamis menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai
suatu tujuan. Secara sederhana, kelas dapat diartikan sebagai unit kerja
terkecil di sekolah yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan pembelajaran.
Pembagian kelas sebagai sebuah unit biasanya ditentukan oleh jenjang usia
peserta didik. Setelah membahas tentang manajemen dan kelas, maka definisi dari
manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk
belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa
manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses
pembelajaran secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan
belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan
situasi kondisi proses pembelajaran dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran
berjalan dengan baik dan tujuan kurikurer dapat tercapai.
Arikunto memberikan
pengertian pengelolaan kelas sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung
jawab kegiatan pembelajaran yang membantu dengan maksud agar mencapai kondisi
optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang terlaksana.
Berdasarkan uraian dan
pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah proses atau
upaya yang dilakukan oleh seseorang guru secara sistematis untuk menciptakan
dan mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan kondusif dalam rangka menciptakan
pembelajaran yang efektif dan efisien.
B.
Tujuan
Manajemen Kelas
Sebagai pengelolaan kelas guru atau wali kelas
dituntuk mengelolan kelas sebagai lingkungan belajar siswa. Juga sebagai bagian
dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan. Karena tugas guru yang
utama adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi
pembelajaran dengan baik dan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu, guru dan wali
kelas dituntut memiliki kemampuan yang inovatif dalam mengelola kelas.
Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat
tercipta kondisi kelompok belajar yang proporsional terdiri dari lingkungan
kelas yang baik yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki, serta tersedia kesempatan yang memungkinkan untuk sedikit demi
sedikit mengurangi ketergantungan dengan guru, sehingga siswa mampu melakukan
self activity dan self control secara bertahap, tetapi pasti menuju taraf yang
lebih dewasa.
Secara umum yang menjadi tujuan pengelolaan kelas
dalam pandangan sudirman adalah penyedian fasilitas bagi bermacam-macam
kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam
kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap apresiasi para siswa.
Secara khusus yang menjadi tujuan pengelolaan kelas
dalam pandangan Usman adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan
alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa belajar
dan bekerja, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Tujuan Manajemen Kelas pada hakikatnya telah
terkandung dalam tujuan pendidikan, baik secara umum maupun khusus. Secara umum
tujuan Manajemen Kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa untuk belajar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap, serta apresiasi para siswa. Adapun
tujuan dari Manajemen Kelas adalah sebagai berikut :
1. Agar
pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien.
2. Untuk
memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya.
Dengan Manajemen Kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/
perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
3. Untuk
memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan
dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
Jadi, Manajemen Kelas dimaksudkan untuk menciptakan
kondisi didalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang
memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan
Manajemen Kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Sedangkan tujuan Manajemen Kelas secara khusus dibagi menjadi dua yaitu tujuan
untuk siswa dan guru.
Tujuan
Untuk Siswa:
a) Mendorong
siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan
kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
b) Membantu
siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan
memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan.
c) Membangkitkan
rasa tanggung-jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang
diadakan.
Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan daripada
Manajemen Kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib,
sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Tujuan
Untuk Guru:
a) Untuk
mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar
dan kecepatan yang tepat.
b) Untuk
dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi
petunjuk secara jelas kepada siswa.
c) Untuk
mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang
mengganggu.
d) Untuk
memiliki strategi remedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam
hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas.
Maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap guru mampu
menguasai kelas dengan menggunakan berbagai macam pendekatan dengan
menyesuaikan permasalahan yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif,
efektif dan efisien.
C.
Proses
Manajemen Kelas
Upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana
yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi, dapat dilakukan secara preventif
maupun kuratif. Perbedaan kedua jenis pengelolaan kelas tersebut, akan
berpengaruh terhadap perbedaan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh
seorang guru dalam menerapkan kedua jenis Manajemen Kelas tersebut. Dikatakan
secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk
menciptakan suatu kondisi dari kondisi interaksi biasa menjadi interaksi
pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan bagi Proses
Belajar Mengajar. Sedangkan yang dimaksud dengan Manajemen Kelas secara kuratif
adalah yang dilaksanakan karena terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa,
sehingga mengganggu jalannya Proses Belajar Mengajar.
1. Prosedur
Manajemen Kelas yang bersifat Preventif meliputi :
a. Peningkatan
Kesadaran Pendidik Sebagai Guru Suatu langkah yang mendasar dalam strategi Manajemen
Kelas yang bersifat preventif adalah meningkatkan kesadaran diri pendidik
sebagai guru. Dalam kedudukannya sebagai guru, seorang pendidik harus sadar
bahwa dirinya memiliki rasa “handharbeni“ (memiliki dengan penuh keyakinan) dan
bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan. Ia yakin bahwa apapun corak
proses pendidikan yang akan terjadi terhadap siswa, semuanya akan menjadi
tanggung-jawab guru sepenuhnya.
Sebagai seorang guru,
pendidik berkewajiban mengubah pergaulannya dengan siswa sehingga pergaulan itu
tidak hanya berupa interaksi biasa, tetapi merupakan interaksi pendidikan. Agar
interaksi tersebut bersifat sebagai interaksi pendidikan, maka seorang guru
harus dapat mewujudkan suasana kondusif yang mengundang siswa untuk ikut
berperan serta dalam proses pendidikan.
b. Peningkatan
Kesadaran Siswa
Apabila kesadaran diri
pendidik sebagai seorang guru sudah ditingkatkan, langkah selanjutnya adalah
berusaha meningkatkan kesadaran siswa akan kedudukan dirinya dalam proses
pendidikan.
Kesadaran akan hak dan
kewajibannya dalam proses pendidikan ini baru akan diperoleh secara menyeluruh
dan seimbang jika siswa itu menyadari akan kebutuhannya dalam proses
pendidikan. Adakalanya siswa tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan
yang menyimpang, karena ia tidak sadar bahwa ia membutuhkan sesuatu dari proses
pendidikan itu.
Upaya penyadaran ini
menjadi tanggung-jawab setiap guru, karena dengan kesadaran siswa yang tinggi
akan peranannya sebagai anggota masyarakat sekolah, akan menimbulkan suasana
yang mendukung untuk melakukan Proses Belajar Mengajar.
c. Penampilan
Sikap Guru
Penampilan sikap guru
diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa yang disajikan dengan sikap tulus
dan hangat. Yang dimaksud dengan sikap tulus adalah sikap seorang guru dalam menghadapi
siswa secara berterus-terang tanpa pura-pura, tetapi diikuti dengan rasa ikhlas
dalam setiap tindakannya demi kepentingan perkembangan dan pertumbuhan siswa
sebagai si terdidik. Sedangkan yang dimaksud dengan hangat adalah keadaan
pergaulan guru kepada siswa dalam Proses Belajar Mengajar yang menunjukkan
suasana keakraban dan keterbukaan dalam batas peran dan kedudukannya
masing-masing sebagai anggota masyarakat sekolah.
Dengan sikap yang tulus
dan hangat dari guru, diharapkan proses interaksi dan komunikasinya berjalan
wajar, sehingga mengarah kepada suatu penciptaan suasana yang mendukung untuk
kegiatan pendidikan.
d. Pengenalan
Terhadap Tingkah Laku Siswa
Tingkah laku siswa yang
harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat
mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah
laku tersebut bisa bersifat perseorangan maupun kelompok. Identifikasi akan
variasi tingkah laku siswa itu diperlukan bagi guru untuk menetapkan pola atau
pendekatan Manajemen Kelas yang akan diterapkan dalam situasi kelas tertentu.
e. Penemuan
Alternatif Manajemen Kelas
Agar pemilihan
alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang
dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang
dapat digunakan dalam Manajemen Kelas. Dengan berpegang pada pendekatan yang
sesuai, diharapkan arah Manajemen Kelas yang diharapkan akan tercapai.
Selain itu, pengalaman
guru yang selama ini dilakukan dalam mengelola kelas waktu mengajar, baik yang
dilakukan secara sadar maupun tidak sadar perlu pula dijadikan sebagai
referensi yang cukup berharga dalam melakukan Manajemen Kelas.
f. Pembuatan
Kontrak Sosial
Kontrak sosial pada
hakekatnya berupa norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib
kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar
tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak
sosial yang baik adalah yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga
meminimalkan terjadinya pelanggaran.
Dengan kata lain,
kontrak sosial yang digunakan untuk upaya Manajemen Kelas, hendaknya disusun
oleh siswa sendiri dengan pengarahan dan bimbingan dari pendidik.
2. Prosedur
Manajemen Kelas yang bersifat Kuratif meliputi :
a. Identifikasi
Masalah
Pertama-tama guru
melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyidik
penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses
pendidikan didalam kelas, dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang
berdampak negatif secara luas atau tidak, ataukah hanya sekedar masalah
perseorangan atau kelompok, ataukah bersifat sesaat saja ataukah sering
dilakukan maupun hanya sekedar kebiasaan siswa.
b. Analisis
Masalah
Dengan hasil penyidikan
yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha
mengetahui latar belakang serta sebab-musabbab timbulnya tingkah laku siswa
yang menyimpang tersebut. Dengan demikian, akan dapat ditemukan sumber masalah
yang sebenarnya.
c. Penetapan
Alternatif
Pemecahan Untuk dapat
memperoleh alternatif-alternatif pemecahan tersebut, hendaknya mengetahui
berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas dan juga
memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan
masing-masing.
Dengan membandingkan
berbagai alternatif pendekatan yang mungkin dapat dipergunakan, seorang guru
akan dapat memilih alternatif yang terbaik untuk mengatasi masalah pada situasi
yang dihadapinya. Dengan terpilihnya salah satu pendekatan, maka cara-cara
mengatasi masalah tersebut juga akan dapat ditetapkan. Dengan demikian,
pelaksanaan Manajemen Kelas yang berfungsi untuk mengatasi masalah tersebut
dapat dilakukan.
d. Monitoring
Hal ini diperlukan,
karena akibat perlakuan guru dapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan
tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa
atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru
lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan
untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi.
e. Memanfaatkan
Umpan Balik (Feed-Back) Hasil Monitoring tersebut, hendaknya dimanfaatkan
secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk :
a) Memperbaiki
pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah
yang sama pada situasi yang sama.
b) Dasar
dalam melakukan kegiatan Manajemen Kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari
kegiatan Manajemen Kelas yang sudah dilakukan sebelumnya.
D.
Strategi
Manajemen Kelas
1.
Menciptakan suasana atau kondisi kelas yang optimal
Seseorang guru harus bisa menciptakan suasana atau kondisi dari kondisi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan proses belajar mengajar sehingga siswa bersemangat dalam belajarnya. Keterampilan yang harus dimiliki guru yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar adalah sikap tanggap, membagi perhatian, dan pemusatan perhatian kelompok.
Seseorang guru harus bisa menciptakan suasana atau kondisi dari kondisi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan proses belajar mengajar sehingga siswa bersemangat dalam belajarnya. Keterampilan yang harus dimiliki guru yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar adalah sikap tanggap, membagi perhatian, dan pemusatan perhatian kelompok.
2.
Berusaha menghentikan tingkah laku siswa yang menyimpang
Seorang guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang mengganggu kelancaran proses belajar mengajar di kelas. Setelah itu guru memberikan teguran dan bimbingan serta pengarahan-pengarahan agar tercipta tingkah laku siswa yang mendukung kelancaran proses belajar mengajar.
Seorang guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang mengganggu kelancaran proses belajar mengajar di kelas. Setelah itu guru memberikan teguran dan bimbingan serta pengarahan-pengarahan agar tercipta tingkah laku siswa yang mendukung kelancaran proses belajar mengajar.
3.
Menciptakan disiplin kelas
Pembinaan disiplin kelas atau pencegahan terjadinya pelanggaran disiplin bisa dilakukan dengan cara membuat tata tertib kelas (Djamarah, 1996: 212).
Pembinaan disiplin kelas atau pencegahan terjadinya pelanggaran disiplin bisa dilakukan dengan cara membuat tata tertib kelas (Djamarah, 1996: 212).
4.
Menciptakan keharmonisan antara guru dengan siswa.
Keharmonisan hubungan guru
dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas terutama dalam
meningkatkan efektifitas belajar mengajar. Hubungan guru dan siswa dikatakan
baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a.
Keterbukaan, guru maupun siswa saling bersikap jujur dan
membuka diri antar satu dengan yang lain.
b.
Tanggap, bilamana seseorang tahu bahwa tindakannya dinilai
orang lain.
c.
Saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.
d.
Kebebasan yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan
mengembangkan keunikannya, kreatifitasnya, dan kepribadiannya.
e.
Saling memenuhi kebutuhan sehingga tidak ada kebutuhan satu
orangpun yang tidak terpenuhi (Gordon, 1990: 28).
DAFTAR RUJUKAN
Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi,
dan Implementasi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Dimayati. Mudjiono.
1999. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta.
Slameto. 1991. Belajar Dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Materinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik dan jugaaa peserta didiknya
BalasHapussangat membantu tugas saya, terimakasih kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusTerimakasih sangat membantu sekali materinya
BalasHapusMaterinya sangat membantu sinta
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus