TUGAS
MANAJEMEN
KELAS di SD
Tentang
Prinsip-
prinsip manajemen kelas
Oleh:
SINTA
KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas:
7.5 PGSD
Dosen
Pengampu:
Yessi
Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019
PRINSIP- PRINSIP MANAJEMEN KELAS
A.
Pengertian
prinsip dalam manajemen kelas
Manajemen
Kelas merupakan usaha guru untuk menata dan mengatur tata-laksana kelas diawali
dari perencanaan kurikulum, penataan prosedur dan sumber belajar, pengaturan
lingkungan kelas, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah
yang mungkin timbul di kelas.
Dalam
manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai
prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
1. Prinsip
kesiapan (readiness)
Kesiapan belajar adalah
kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang
pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi, dan factor-faktor lain
yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
2. Prinsip
motivasi (motivation)
Motivasi adalah tenaga
pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kea rah suatu
tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan
bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu
yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan
memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus
bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
3. Prinsip
perhatian
Perhatian merupakan
suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi
pada suatu masalah, menninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada
aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam
proses pembelajaran perhatian merupakan factor yang besar pengaruhnya.
4. Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah:
a.
makin baik persepsi mengenai sesuatu makin
mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut.
b. dalam
pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan
pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari
c.
dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai
sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik
memperoleh persepsi yang lebih akurat.
5.
Prinsip Retensi
Retensi
adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang
mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan
atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali
jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh
peserta didik dalam proses pembelajaran.
6.
Prinsip Transfer
Transfer
merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi
proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti
pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru
dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu
diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami
dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
B.
Permasalahan
Dalam Prinsip Manajemen Kelas
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat
perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah
perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat
sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara
kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali
dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1.
Masalah Individual :
Penggolongan masalah
individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu
mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar
untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal
mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah
laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku
menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan
memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama
makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain
boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a.
Attention getting behaviors (pola perilaku mencari
perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya
secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya
(secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain.
Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada
anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan
kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku
destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang
malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
b.
Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan
kekuatan/kekuasaan) :Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian
yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka
mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau
melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
c.
Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas
dendam) :Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan
tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti
orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit,
menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap
binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa
sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya
dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d.
Helplessness (peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang
memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha
mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap
menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap
bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan
tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku
mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini
selalu berbentuk pasif.
Keempat
masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau
perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi
juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk
mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri
para siswa. Diantaranya yaitu :
a.
Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku
seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin
mengalami masalah mencari perhatian.
b.
Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari
kekuasaan.
c.
Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa
siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d.
Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan
tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan.
Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara
tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa
itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau
memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa
secara tepat pula.
2. Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya
dengan pengelolaan kelas:
a.
Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok
ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota
kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau
bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat
dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat
yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di
kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b.
Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika
suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas
yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti
peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku
mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara
keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang
bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu
antri di kafetaria dan lain-lain.
c.
Reaksi negatif terhadap sesama anggota
kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila
ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang
tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan
kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota
kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk
mengikuti kemauan kelompok.
d.
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang
menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang
terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok
yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada
umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya
membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka
masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok
kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.
Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan
yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru
kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok
itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu
mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau
bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok
itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena
mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana
diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f.
Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku
agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila
kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu
dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus
menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah
atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena
gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau
keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan
secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan.Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila
kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau
perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan,
pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan
lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok)
sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan
yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling
sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru
pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
C.
Kebijakan Tentang Prinsip Manajemen
Kelas
Dalam
manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai
prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu
(Muhaimin,2002:137-144):
1.
Prinsip kesiapan (readiness)
Kesiapan
belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar
belakang, pengalaman, hasil belajar, yang baku, motivasi, persepsi, dan
factor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.
2.
Prinsip motivasi (motivaon)
Motivasi
adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kea
rah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan
bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu
yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan
memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus
bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
3.
Prinsip perhatian
Perhatian
merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu
berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri
pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam
proses pembelajaran perhatian merupakan factor yang besar pengaruhnya.
4.
Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan persepsi adalah.
a.
makin
baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat
sesuatu tersebut.
b.
dalam
pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan
pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari.
c.
dalam
pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati
benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih
akurat.
5.
Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat
diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat
apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur
kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat
menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
6.
Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu
yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang
baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah
dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau
keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat
dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam
pekerjaan yang akan dihadapi kelak
DAFTAR PUSTAKA
Wijaya, Cece dan
Rusyan, A. Tabrani. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam
Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan.
2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
bermanfaat sekali kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusTerimakasih sangat berguna sekali dengan materinya
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat
BalasHapusMaterinya sangat membantu sinta
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus