TUGAS 2
MANAJEMEN
KELAS di SD
Tentang
Hakekat
Manajemen Kelas di SD
Oleh:
SINTA
KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas:
7.5 PGSD
Dosen
Pengampu:
Yessi
Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019
MANAJEMEN
PEMBELAJARAN
A. Konsep Manajemen Pembelajaran
Proses
pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks.
Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang
bersifat sistematik, maksudnya masingmasing komponen memiliki peranan
sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing
komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik. Tujuannya agar
masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan
terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen
pembelajaran.
Di
dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto
mengungkapkan bahwa manajemenadalah penyelenggaraan atau pengurusan agar
sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien1 .
Manajemen juga diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan
mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi
tercapai secara efektif dan efisien2 . Jadi, manajemen merupakan serangkaian
proses yang dilaksanakan dalam sebuah kegiatan guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dan diharapkan. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang
manajemen yang dikutip oleh Dayat dalam Jurnal tentang pengantar teori
Manajemen, diantaranya:
1. Harold
Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management”
mengemukakan, “manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan
yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.
2. George
R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan
definisi: “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan
baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya”.
3. G.R.
Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk
menentukan dan usaha mencapai sasaransasaran dengan memanfaatkan sumber daya
manusia dan sumber daya lainnya.
4. James
A. F. Stoner, manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usahausaha) anggota organisasi dan
menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
5. Oei
Liang Lie, manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian,
pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam,
terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Berdasarkan
beberapa pendapat para ahli di atas, maka manajemen dapat diartikan sebagai
aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu,
manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan
mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan yang melibatkan
fungsi-fungsi pokok manajemen.
Menurut
Gagne sebagaimana yang dikemukakan oleh Margaret E. Bell Gredler bahwa istilah
pembelajarandapat diartikan sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal
yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang sifatnya internal
“. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang
sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka memberikan
bantuan bagi terjadinya proses belajar.
Berdasarkan
berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
serangkaian kegiatan yang di usahakan dalam rangka agar orang dapat melakukan
aktivitas belajar dengan harapan mewujudkan tujuan pembelajaran. Setelah
mengetahui masing-masing pengertian dari manajemen dan pembelajaran,
selanjutnya manajemen pembelajaran artinya yaitu suatu usaha untuk mengelola
sumber daya yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Manajemen
pembelajaran juga merupakan suatu usaha dan kegiatan yang meliputi pengaturan
seperangkat program pengalaman belajar yang disusun untuk mengembangkan
kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan organisasi atau sekolah.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran
adalah proses pengelolaan dalam kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari
proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan penilaian
dalamrangka mencapai tujuan pendidikan.
Manajemen
pembelajaran memiliki arti penting dalam sebuah proses pendidikan., dimana
dengan adanya manajemen dalam sebuah proses pembelajaran diharapkan tujuan
pembelajaran akan terpenuhi, sehingga langkah-langkah dalam proses pembelajaran
yang dimulai dari perencanaan hingga evaluasi mampu mewujudkan pencapaian
tujuan pembelajaran pada umumnya dan efektivitas belajar bagi peserta didik
pada khususnya. Karena dengan manajemen pembelajaran yang baik tentunya juga
akan berdampak pada kegiatan pembelajaran yang terarah dan mampu menciptakan
kondisi pembelajaran yang optimal.
B. Tujuan Manajemen Pembelajaran
Tujuan
manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen
manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen
pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan.
Adapun
tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan
pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik
dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat
terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuan
manajemen pendidikan antara lain:
1.
Terwujudnya suasana belajar dan proses
pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Bermakna (PAKEMB);
2.
Terciptanya peserta didik yang aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara;
3.
Terpenuhinya salah satu dari 5 kompetensi
tenaga kependidikan (tertunjangnya kompetensi manajerial tenaga kependidikan
sebagai manajer);
4.
Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif
dan efesien;
5.
Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori
tentan proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai
manajer atau konsultan manajemen pendidikan);
6.
Teratasinya masalah mutu pendidikan karena
80% masalah mutu disebabkan oleh manajemennya;
7.
Terciptanya perencanaan pendidikan yang
merata, bermutu, relevan, dan akuntabel;
8.
Meningkatnya citra positif pendidikan.
C. Kebijakan Tentang Manajemen
Pembelajaran
Salah
satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah
dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui
berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat
pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu
manajemen pendidikan.
Pembelajaran
dapat diartikan sebagai suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang
dalam rangka membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat
membangun kreatifitas siswa. Dengan demikian pendekatan pembelajaran lebih
menekankan kepada semua peristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada
efektifitas belajar siswa. Agar sistem pendidikan yang dilaksanakan di sekolah
mampu menghasilkan out put yang berkualitas maka sistem tersebut harus mampu
menciptakan sistem belajar yang berkualitas tinggi yang secara operasional
dapat dipresentasikan oleh proses pembelajaran yang berkualitas. Ada beberapa
komponen yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran, komponen-komponen tersebut
adalah:
1. Proses
pembelajaran Pikiran utama yang terdapat dalam prinsip. Strategi, dan tahapan
belajar mengajar mencerminkan bahwa pembelajaran tidak sesederhana dengan
proses penyampaiannya.
2. Kurikulum
Sekolah harus dapat mempertahankan nilai relevansi yang tinggi antara
kurikulum, situasi, dan kondisi tuntutan serta kebutuhan masyarakat.
Pengembangan kurikulum harus dapat mengakomodasikan unsur-unsur teoritis dan
praktis berdasarkan tujuan yang berdasarkan kebutuhan yang diperkirakan sesuai
dengan dinamika yang beraneka ragam, oleh karena itu kurikulum harus dipantau
dan dievaluasi secara terus menerus agar dapat menjamin kualitas maupun kuantitas
produk suatu sekolah dan tidak semata-mata berorientasi pada produk melainkan
juga pasar.
3. Kerja
pembelajaran Kerja pembelajaran ini bagi pendidik dimaksudkan untuk
meningkatkan pelayanan terhadap mutu pendidikan secara team teaching di kelas
dan team working dalam workshop. Masing-masing peran dan fungsi pendidik
diarahkan pada kerja pembelajaran supaya dapat meningkatkan mutu. Bagi siswa,
kerja pembelajaran ini dimaksudkan sebagai suatu upaya untuk memberdayakan
siswa dalam melakukan kajian-kajian ilmiah dengan ,melibatkan diri secara
kelompok atau dengan kajian individual.
4. Peran
pendidik Sebagai seorang pendidik guru harus merencanakan, melaksanakan, dan
harus mengawasi program-program yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu
pembelajaran bagi peningkatan prestasi peserta didik. Tiga komponen kompetensi
yang harus dimiliki guru agar kegiatan pembelajaran yang dilakukan bisa
berjalan dengan efektif, yaitu:
a. Komponen
kompetensi pengelolaan pembelajaran yang meliputi: penyusunan rencana
pembelajaran, pelaksanaan interaksi belajar mengajar, penilaian prestasi
belajar peserta didik, pelaksanaan tindak lanjut peserta didik.
b. Komponen
kompetensi pengembangan potensi yaitu pengembangan profesi
c. Komponen
kompetensi penguasaan akademik yang meliputi: pemahaman wawasan pendidikan, dan
penguasaan bahan kajian
5. Pengelolaan
siswa/pendekatan “anak sebagai pusat” (the child-centered approach). Filosofi
pembelajaran berpusat pada siswa adalah penekanan lebih pada proses
pembelajaran secara signifikan ketimbang produk/outcomes pembelajaran. Pada
pendekatan ini lebih menitik beratkan pada:
a. Anak
adalah sentral pelaksanaan pembelajaran.
b. Pembelajaran
berfokus pada anak secara total.
c. Guru
memberi peluang bagi anak untuk secara alami mengembangkan diri hingga ke
tingkat edvan.
d. Sentral
perubahan terhadap anak meski tidak selalu diobservasi.
e. Perubahan
hanya dialami pada konteks dari siswa secara menyeluruh.
f. Perubahan
dan motivasi anak bersifat internal, guru hanya member dorongan dan fasilitas
6. Pengelolaan
lingkungan kelas Iklim belajar yang kondusif merupakan faktor pendorong yang
dapat memberikan daya tarik terhadap proses pembelajaran, sebaliknya iklim
belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
Proses pembelajaran selain diawali dengan perencanaan yang bijak, serta
didukung dengan komunikasi yang baik, juga harus didukung dengan pengembangan
strategi yang mampu membelajarkan siswa. Pengelolaan pembelajaran merupakan
suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Untuk mencapai pembelajaran yang optimal
serta mendapatkan mutu yang bagus maka pembelajaran harus dikelola dengan baik
D. Peran Guru Dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru
sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu
memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan
kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa.
Menurut Padmono (2011,
23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan
terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif
sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat
menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat
terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar
tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.
Peran guru dalam
pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat
akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian
kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung
guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan
sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang
menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang
ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan
sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek
yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid
hanya pasif menerima.
a.
Kelas terbuka
Kelas
dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan
model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai
kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam
pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut,
sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai.
Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III,
tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke
kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b. Kelas
dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan
dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi
berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c. Kelas
awal
Pembelajaran dengan
pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap
pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan
mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila
dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata
pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh
sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena
anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih
mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak
bermakna.
2.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan
pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai
pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk
:
a.
Seating
chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada
satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang
sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid
tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar
sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan
penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh
buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga
setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di
kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan
pandangan mereka sendiri.
b.
Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam
pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan
kejenuhan siswa.
c.
Tapal
kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang
dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan
meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok
kecil.
3. Peran
guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa
kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas
permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan
di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya.
Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat
pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan
sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis,
pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak
perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga
bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4. Peran
guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah
indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita
rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan
rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang
diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga
kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya
agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai
dengan beberapa cara, yaitu:
a. menata ruangan menjadi rapi,
misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi
buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang
sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk
tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam
lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata,
langsung, dan bermakna,
b. penataan meja guru, gambar-gambar
merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.
5. Cahaya,
Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang
mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan,
untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas
oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki
ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal
di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak
dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak
kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab
terganggu oleh gema suara.
Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk
pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema.
Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat.
Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering
tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah
tinggal di kelasnya.
E. Kode Etik Guru
Secara
etimologis kode etik berasal dari dua kata yaitu kode dan etik. Kode merupakan
sekumpulan aturan dan prinsip dan sistematis. Etik artinya azas akhlak. Jadi
kode etik adalah norma dan azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu
sebagai landasan tingkah laku.
Secara
terminologis kode etik merupakan pola turan, tata cara, tanda, pedoman etis
dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Tujuan kode etik guru:
1. Tujuan
umum:
Menjamin
guru agar dapat melaksanakan tugas kependidikan mereka sesuai dengan tuntutan
sesuai dengan tuntutan etis dari segala aspek kegiatan penyelenggraan
pendidikan.
2. Tujuan
khusus:
a. Menanamkan
kesadaran pada guru bahwa kode etik merupakan produk anggota profesinya yang
berdasarkan falsafah pancasila dan UUD 45
b. Mewujudkan
terciptanya guru professional sesuai dengan kompetensinya
c. Membentuk
sikap professional di kalangan tenaga kependidikan maupunmasyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan
d. Meningkatkan
kualitas professional tenaga kepedidikan untuk keperluan pengembangan kode etik
itu sendiri.
Poin-poin
kode etik guru yang dirumuskan oleh Persatuan Guru Repunlik Indonesia Adalah
sebagai berikut:
1. Guru
berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya
yang berjiwa Pancasila
2. Guru
memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
3. Guru
berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan
bimbingan dan pembinaan
4. Guru
menciptkan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses
belajar mengajar
5. Guru
memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk
membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan
6. Guru
secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan mutu dan martabat profesinya
7. Guru
memelihara hubungan profess, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial
8. Guru
secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai
sarana perjuangan dan pengabdian
9. Guru
melaksakanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Nanang Fattah.
2001. Landasan Manajemen Pendidikan. Remaja Rosdakarya: Bandung
Nazarudin. 2007.
Manajemen
Pembelajaran. Teras: Yogyakarta
Manullang. 1985.
Management
Personalia. Ghalia Indonesia. Jakarta
Usman,
Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung
Assalamualaikum sinta... Sarah mau bertanya kepada sinta.. Apakah pengelolaan kelas itu sudah terlaksana di sekolah-sekolah yang sinta ketahui? Terutama sekolah yg ada di sekitar sinta?
BalasHapusMohon penjelasannya
Waalaikum salam Sarah. Terimakasih atas pertanyaan nya. Baik lah ana akan menjawab pertanyaan dari Sarah, menurut ana, dalam pengelolaan kelas di terutama sekolah di sekitar ana. Pengelolaan kelas belum kondusif karena guru kurang memperhatikan kondisi kelas pada saat itu, dimana kelas yang masih kotor, dan siswa nya masih keluar masuk. Jadi disana ana bisa mengetahui kalau guru tersebut belum bisa memenuhi atau belum bisa melakukan pengelolaan kelas tersebut. Maaf jika jawaban ana belum tepat ya Maisarah🙏
HapusApa tujuan manajemen pembelajaran?
BalasHapusTerima kasih sebelumnya kepada Rani nofrianti.
BalasHapusBaik lah ana akan menjawab pertanyaan dari saudari.
Tujuan manajemen pembelajaran yaitu untuk memperoleh cara, teknik, dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien
Wahhh artikel blognya sngat bagus,di sini saya bertanya kepada saudari sinta khairani utami,tlong saudri jelaskan pengertian manajemen pembelajaran menurut saudari,sekian dan terima kasih😊
BalasHapusMakasi telah berbagi materinya engat bermanfaat
BalasHapusArtikelnya sudah bagus
BalasHapusTeruslah menulis sesuatu yg bermanfaat
😊
Assalamualaikum sinta,
BalasHapusterimakasih atas materinya,
disini saya mau bertanya
Apa yang terjadi jika guru tidak menjalankan kode etik dalam mengajar ?
sangat bagus artikel nya.membri banyak ilmu
BalasHapusMakasi telah berbagi materinya sngat bermanfaat
BalasHapussanagt bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusTerimakasih, sangat membantu sekali
BalasHapusMaterinya sangat membantu sinta
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus