Kamis, 01 Agustus 2019

manajemen pembelajaran


TUGAS 2
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Hakekat Manajemen Kelas di SD
Oleh:
SINTA KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas: 7.5 PGSD
Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019

MANAJEMEN PEMBELAJARAN
A.    Konsep Manajemen Pembelajaran
Proses pembelajaran sangat terkait dengan berbagai komponen yang sangat kompleks. Antara komponen yang satu dengan komponen lainnya memiliki hubungan yang bersifat sistematik, maksudnya masingmasing komponen memiliki peranan sendiri-sendiri tetapi memiliki hubungan yang saling terkait. Masing-masing komponen dalam proses pembelajaran perlu dikelola secara baik. Tujuannya agar masing-masing komponen tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini akan terwujud, jika guru sebagai desainer pembelajaran memiliki kompetensi manajemen pembelajaran.
Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto mengungkapkan bahwa manajemenadalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien1 . Manajemen juga diartikan sebagai proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien2 . Jadi, manajemen merupakan serangkaian proses yang dilaksanakan dalam sebuah kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan diharapkan. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen yang dikutip oleh Dayat dalam Jurnal tentang pengantar teori Manajemen, diantaranya:
1.       Harold Koontz & O’ Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain”.
2.       George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan definisi: “manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”.
3.       G.R. Terri, manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaransasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
4.       James A. F. Stoner, manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usahausaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5.       Oei Liang Lie, manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu, manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan yang melibatkan fungsi-fungsi pokok manajemen.
Menurut Gagne sebagaimana yang dikemukakan oleh Margaret E. Bell Gredler bahwa istilah pembelajarandapat diartikan sebagai “ seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar yang sifatnya internal “. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di usahakan dalam rangka agar orang dapat melakukan aktivitas belajar dengan harapan mewujudkan tujuan pembelajaran. Setelah mengetahui masing-masing pengertian dari manajemen dan pembelajaran, selanjutnya manajemen pembelajaran artinya yaitu suatu usaha untuk mengelola sumber daya yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Manajemen pembelajaran juga merupakan suatu usaha dan kegiatan yang meliputi pengaturan seperangkat program pengalaman belajar yang disusun untuk mengembangkan kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan organisasi atau sekolah. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran adalah proses pengelolaan dalam kegiatan belajar mengajar yang dimulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan penilaian dalamrangka mencapai tujuan pendidikan.
Manajemen pembelajaran memiliki arti penting dalam sebuah proses pendidikan., dimana dengan adanya manajemen dalam sebuah proses pembelajaran diharapkan tujuan pembelajaran akan terpenuhi, sehingga langkah-langkah dalam proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan hingga evaluasi mampu mewujudkan pencapaian tujuan pembelajaran pada umumnya dan efektivitas belajar bagi peserta didik pada khususnya. Karena dengan manajemen pembelajaran yang baik tentunya juga akan berdampak pada kegiatan pembelajaran yang terarah dan mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang optimal.
B.     Tujuan Manajemen Pembelajaran
Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karen manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal. Apabila dikaitkan dengan pengertian manajemen pendidikan pada hakikatnya merupakan alat mencapai tujuan.
Adapun tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pokok mempelajari manajemen pembelajaran adalah untuk memperoleh cara, teknik dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:
1.      Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Bermakna (PAKEMB);
2.      Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara;
3.      Terpenuhinya salah satu dari 5 kompetensi tenaga kependidikan (tertunjangnya kompetensi manajerial tenaga kependidikan sebagai manajer);
4.      Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efesien;
5.      Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentan proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer atau konsultan manajemen pendidikan);
6.      Teratasinya masalah mutu pendidikan karena 80% masalah mutu disebabkan oleh manajemennya;
7.      Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu, relevan, dan akuntabel;
8.      Meningkatnya citra positif pendidikan.

C.    Kebijakan Tentang Manajemen Pembelajaran
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen pendidikan.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu peristiwa atau situasi yang sengaja dirancang dalam rangka membantu dan mempermudah proses belajar dengan harapan dapat membangun kreatifitas siswa. Dengan demikian pendekatan pembelajaran lebih menekankan kepada semua peristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada efektifitas belajar siswa. Agar sistem pendidikan yang dilaksanakan di sekolah mampu menghasilkan out put yang berkualitas maka sistem tersebut harus mampu menciptakan sistem belajar yang berkualitas tinggi yang secara operasional dapat dipresentasikan oleh proses pembelajaran yang berkualitas. Ada beberapa komponen yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran, komponen-komponen tersebut adalah:
1.      Proses pembelajaran Pikiran utama yang terdapat dalam prinsip. Strategi, dan tahapan belajar mengajar mencerminkan bahwa pembelajaran tidak sesederhana dengan proses penyampaiannya.
2.      Kurikulum Sekolah harus dapat mempertahankan nilai relevansi yang tinggi antara kurikulum, situasi, dan kondisi tuntutan serta kebutuhan masyarakat. Pengembangan kurikulum harus dapat mengakomodasikan unsur-unsur teoritis dan praktis berdasarkan tujuan yang berdasarkan kebutuhan yang diperkirakan sesuai dengan dinamika yang beraneka ragam, oleh karena itu kurikulum harus dipantau dan dievaluasi secara terus menerus agar dapat menjamin kualitas maupun kuantitas produk suatu sekolah dan tidak semata-mata berorientasi pada produk melainkan juga pasar.
3.      Kerja pembelajaran Kerja pembelajaran ini bagi pendidik dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan terhadap mutu pendidikan secara team teaching di kelas dan team working dalam workshop. Masing-masing peran dan fungsi pendidik diarahkan pada kerja pembelajaran supaya dapat meningkatkan mutu. Bagi siswa, kerja pembelajaran ini dimaksudkan sebagai suatu upaya untuk memberdayakan siswa dalam melakukan kajian-kajian ilmiah dengan ,melibatkan diri secara kelompok atau dengan kajian individual.
4.      Peran pendidik Sebagai seorang pendidik guru harus merencanakan, melaksanakan, dan harus mengawasi program-program yang berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pembelajaran bagi peningkatan prestasi peserta didik. Tiga komponen kompetensi yang harus dimiliki guru agar kegiatan pembelajaran yang dilakukan bisa berjalan dengan efektif, yaitu:
a.       Komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran yang meliputi: penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan interaksi belajar mengajar, penilaian prestasi belajar peserta didik, pelaksanaan tindak lanjut peserta didik.
b.      Komponen kompetensi pengembangan potensi yaitu pengembangan profesi
c.       Komponen kompetensi penguasaan akademik yang meliputi: pemahaman wawasan pendidikan, dan penguasaan bahan kajian
5.      Pengelolaan siswa/pendekatan “anak sebagai pusat” (the child-centered approach). Filosofi pembelajaran berpusat pada siswa adalah penekanan lebih pada proses pembelajaran secara signifikan ketimbang produk/outcomes pembelajaran. Pada pendekatan ini lebih menitik beratkan pada:
a.       Anak adalah sentral pelaksanaan pembelajaran.
b.      Pembelajaran berfokus pada anak secara total.
c.       Guru memberi peluang bagi anak untuk secara alami mengembangkan diri hingga ke tingkat edvan.
d.      Sentral perubahan terhadap anak meski tidak selalu diobservasi.
e.       Perubahan hanya dialami pada konteks dari siswa secara menyeluruh.
f.       Perubahan dan motivasi anak bersifat internal, guru hanya member dorongan dan fasilitas
6.      Pengelolaan lingkungan kelas Iklim belajar yang kondusif merupakan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik terhadap proses pembelajaran, sebaliknya iklim belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan. Proses pembelajaran selain diawali dengan perencanaan yang bijak, serta didukung dengan komunikasi yang baik, juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa. Pengelolaan pembelajaran merupakan suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Untuk mencapai pembelajaran yang optimal serta mendapatkan mutu yang bagus maka pembelajaran harus dikelola dengan baik

D.    Peran Guru Dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. 
Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1.      Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.
a.       Kelas terbuka
Kelas dapat terdiri dari siswa dengan berbagai tingkat kelas berbeda. Pelaksanaan model ini dapat dilaksanakan di Indonesia, jika jadwal pelajaran kelas 1 sampai kelas 6 sama atau diterapkan di kelas tinggi saja. Misalnya: pada waktu jam pelajaran Bahasa Indonesia, maka seluruh guru mengajar pelajaran tersebut, sedang siswa masuk ke kelas di mana siswa menguasai tingkatan yang dicapai. Dengan demikian ada siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia masuk kelas III, tetapi pada waktu Matematika masuk kelas IV, dan mungkin pada pelajaran IPS ke kelas V. Konsep ini mengikuti perkembangan masing-masing individu.
b.      Kelas dua tingkat
Konsep ini dilaksanakan dengan cara seorang guru menghadapi kelompok siswa yang berbeda kelas tetapi berdekatan, misalnya: kelas I dan II, II dan III, III dan IV, dan seterusnya.
c.       Kelas awal
Pembelajaran dengan pendekatan integral atau terpadu dengan kehidupan anak pada tahap pelaksanaannya menerpadukan berbagai konsep, topic, bahan pelajaran dengan mengurangi sedikit mungkin pemisahan-pemisahan secara artificial, bila dimungkinkan guru tidak melabel bahan kajian dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Pembelajaran dikemas menjadi satumodel pembelajaran yang utuh sehingga pemaknaan terhadap bahan kajian menjadi alami. Hal ini terjadi karena anak belajar secara keseluruhan dalam hubungan dengan kehidupan akan lebih mudah dibanding belajar dengan pemisahan-pemisahan secara artifisial yang tak bermakna.
2.      Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
a.       Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
b.      Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c.       Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3.      Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
4.      Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
a.       menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna,
b.      penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.
5.      Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara.
Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.

E.     Kode Etik Guru
Secara etimologis kode etik berasal dari dua kata yaitu kode dan etik. Kode merupakan sekumpulan aturan dan prinsip dan sistematis. Etik artinya azas akhlak. Jadi kode etik adalah norma dan azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku.
Secara terminologis kode etik merupakan pola turan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Tujuan kode etik guru:
1.      Tujuan umum:
Menjamin guru agar dapat melaksanakan tugas kependidikan mereka sesuai dengan tuntutan sesuai dengan tuntutan etis dari segala aspek kegiatan penyelenggraan pendidikan.
2.      Tujuan khusus:
a.       Menanamkan kesadaran pada guru bahwa kode etik merupakan produk anggota profesinya yang berdasarkan falsafah pancasila dan UUD 45
b.      Mewujudkan terciptanya guru professional sesuai dengan kompetensinya
c.       Membentuk sikap professional di kalangan tenaga kependidikan maupunmasyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
d.      Meningkatkan kualitas professional tenaga kepedidikan untuk keperluan pengembangan kode etik itu sendiri.
Poin-poin kode etik guru yang dirumuskan oleh Persatuan Guru Repunlik Indonesia Adalah sebagai berikut:
1.      Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila
2.      Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional
3.      Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan
4.      Guru menciptkan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar
5.      Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidikan
6.      Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan mutu dan martabat profesinya
7.      Guru memelihara hubungan profess, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial
8.      Guru secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
9.      Guru melaksakanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. 





DAFTAR PUSTAKA

Nanang Fattah. 2001. Landasan Manajemen Pendidikan. Remaja Rosdakarya: Bandung
Nazarudin. 2007. Manajemen Pembelajaran. Teras: Yogyakarta
Manullang. 1985. Management Personalia. Ghalia Indonesia. Jakarta
Usman, Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional. PT. Remaja Rosda Karya. Bandung


15 komentar:

  1. Assalamualaikum sinta... Sarah mau bertanya kepada sinta.. Apakah pengelolaan kelas itu sudah terlaksana di sekolah-sekolah yang sinta ketahui? Terutama sekolah yg ada di sekitar sinta?
    Mohon penjelasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikum salam Sarah. Terimakasih atas pertanyaan nya. Baik lah ana akan menjawab pertanyaan dari Sarah, menurut ana, dalam pengelolaan kelas di terutama sekolah di sekitar ana. Pengelolaan kelas belum kondusif karena guru kurang memperhatikan kondisi kelas pada saat itu, dimana kelas yang masih kotor, dan siswa nya masih keluar masuk. Jadi disana ana bisa mengetahui kalau guru tersebut belum bisa memenuhi atau belum bisa melakukan pengelolaan kelas tersebut. Maaf jika jawaban ana belum tepat ya Maisarah🙏

      Hapus
  2. Apa tujuan manajemen pembelajaran?

    BalasHapus
  3. Terima kasih sebelumnya kepada Rani nofrianti.
    Baik lah ana akan menjawab pertanyaan dari saudari.
    Tujuan manajemen pembelajaran yaitu untuk memperoleh cara, teknik, dan metode yang sebaik-baiknya dilakukan sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien

    BalasHapus
  4. Wahhh artikel blognya sngat bagus,di sini saya bertanya kepada saudari sinta khairani utami,tlong saudri jelaskan pengertian manajemen pembelajaran menurut saudari,sekian dan terima kasih😊

    BalasHapus
  5. Makasi telah berbagi materinya engat bermanfaat

    BalasHapus
  6. Artikelnya sudah bagus
    Teruslah menulis sesuatu yg bermanfaat
    😊

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum sinta,
    terimakasih atas materinya,
    disini saya mau bertanya
    Apa yang terjadi jika guru tidak menjalankan kode etik dalam mengajar ?

    BalasHapus
  8. sangat bagus artikel nya.membri banyak ilmu

    BalasHapus
  9. Makasi telah berbagi materinya sngat bermanfaat

    BalasHapus
  10. Terimakasih, sangat membantu sekali

    BalasHapus
  11. Trimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya

    BalasHapus

membina hubungan sekolah dengan masyarakat dalam melaksanakan disiplin sekolah

TUGAS MANAJEMEN KELAS di SD Tentang MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISIPLIN SEKOLAH ...