TUGAS
5
MANAJEMEN
KELAS di SD
Tentang
Komponen-komponen
Keterampilan Manajemen Kelas
Oleh:
SINTA
KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas:
7.5 PGSD
Dosen
Pengampu:
Yessi
Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH
TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA
PADANG
2019
KOMPONEN-KOMPONEN
KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS
A.
Pengertian
Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu
pengelolaan dan kelas. Pengelola sendiri akar katanya adalah “kelolah” di
tambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “
manajemen” . manajemen adalah kata yang di adopsi dari bahasa inggris, yaitu
management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan
pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian,
yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach), pendekatan permisif
(permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau
membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana
kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai
suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti
yang diharapkan.
B.
Macam-macam
Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini
pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan
dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif
) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang
optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan
pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap
tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Keterampilan suka
tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandangan secara seksama, gerak
mendekati, memberi pertanyaaan , dan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan.
Yang termasuk kedalam ketakacuan. Yang termasuk kedalam keterampilan memberi
perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawab,
pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian, penguatan, kelancaran, dan
kecepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan
pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang
menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk kedalam ruang
lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar
yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan diatas akan
diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini:
1.
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini
berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan
pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai
berikut:
a. Sikap
tanggap
Seorang guru
memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa
dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak
menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan
yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir
berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada
perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang
kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru sedang
menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
1) Memandang
secara seksama
Memandang secara
seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam
pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa
persahabatan.
2) Gerak
mendekati
Gerak guru dalam posisi
mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan
perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak
mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti,
mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
3) Memberi
pernyataan
Pernyataan guru
terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik
berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah
dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau
pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”.
“saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran
saya, silakan keluar!”.
4) Memberi
reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya
tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan.
Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah
diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat
mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
b. Membagi
perhatian
Kelas diisi oleh
sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang
berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru.
perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu
yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata
kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama
agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan
dengan cara:
1) Visual
Guru dapat mengubah
pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia
dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama.
Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik
secara individual.
2) Verbal
Guru dapat memberi
komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik
pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik
yang lain.
c. Pemusataan
perhatian kelompok
Munculnya kelompok
informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam
kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan
perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas
yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan
mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan
tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang
terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat
guru lakukan, yaitu:
1) Memberi
tanda
Dalam memulai proses
belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas
dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang
sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik
secara random untuk meresponnya.
2) Pertanggungan
jawab
Guru meminta
pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu
kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab
terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta
kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan
tanggapan.
3) Pengarahan
dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali
memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan
pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak
didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas,
kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang
jelas.
4) Penghentian
Tidak semua gangguan
tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini
adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar
dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela
kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau
menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk
menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai
prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar
mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan.
Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
5) Penguatan
Untuk menanggulangi
anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan
pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan
untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak
didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
6) Kelancaran
(smoothnees)
Kelancaran atau kemajuan
anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan
perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung
dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak
didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan
yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan
(Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
7) Kecepatan
(Pacing)
Kecepatan disini
diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu
pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian
bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan
kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan,
yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
d. Memberikan
petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan
kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan
anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah
memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan
yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
e. Menegur
Permasalahan bisa
terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.
Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran,
sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran
yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari
hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa
tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
f. Memberi
penguatan
Penguatan adalah upaya
yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan
dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan
kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat
nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .
2.
Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini
berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan
maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi
belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan
yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan
yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau
orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan
profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik
dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat
strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus
menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas.
Strategi itu adalah:
a. Memodifikasi
tingkah laku
Modifikasi tingkah laku
adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan
pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian
yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami
masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan
mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
b. Pengelolaan
kelompok
Kelompok kecil ataupun
kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan
pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul
secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan
lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran
maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru
dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
1) Memperlancar
tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan
tugas.
2) Memelihara
kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan
menangani konflik yang timbul.
c. Menemukan
dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki
sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu
permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi
oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat
dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang
muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan
tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus
datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya
mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
C.
Permasalahan
Dalam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Menurut Majid (2007: 144-177) dalam pengelolaan
kelas terdapat dua masalah yakni masalah individual dan masalah kelompok.
Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila guru dapat
mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi. Adapun
masalah-masalah pengelolaan kelas akan dijelaskan di bawah ini sebagai berikut
:
1. Masalah
individu
Masalah individu muncul
karena dalam individu ada kebutuhan yang ingin diterima oleh kelompok dan ingin
mencapai harga diri. Apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi melalui
cara yang baik, maka individu yang bersangkutan akan mencari cara lain untuk
mencapai kebutuhannya dengan berbuat tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu
menurut Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel digolongkan ke dalam empat pont,
yakni:
a. Attention
Getting Behaviors. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain.
Misalnya membadut di kelas, atau berbuat lamban sehingga memerlukan pertolongan
ekstra.
Power seeking,
maksudnya adalah tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan. Misalnya selalu
mendebat, kehilangan kendali emosional (marah, menangis) atau selalu lupa pada
peraturan di kelas.
b. Revenge
Seeking Behaviors, maksudnya adalah tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang
lain. Misalnya menyakiti orang lain dengan perkataan-perkataan yang tidak baik,
memukul, menggigit dan lain-lain.
c. Passive
Behaviors, maksudnya peragaan ketidakmampuan, yakni sama sekali menolak untuk
mencoba melakukan suatu apapun karena khawatir gagal.
Ada
empat tipe tingkah laku yang kurang baik dalam masalah individual ini yakni,
bentuk tingkah laku mencari perhatian yang aktif dan pasif. Bentuk mencari
perhatian yang aktif bersifat merusak seperti bergaya sok, melawak, mengacau,
menjadi nakal, anak yang terus menerus bertanya atau rewel. Adapun bentuk
pasifnya yang bersifat merusak seperti pemaksaan ingin mendapatkan perhatian
orang lain dengan minta tolong terus.
Tingkah
laku untuk mencari kekuasaan hampir sama dengan kasus tindakan di atas, namun
sifatnya lebih kuat yakni mencari perhatian yang sifatnya merusak. Pencari
kekuasaan yang aktif biasanya suka membantah, berbohong, pemukul, mempunyai
watak pemarah, menoloak perintah, dan benar-benar tidak tunduk. Pencari
kekuasaan yang pasif adalah orang yang sangat nyta, biasanya tidak mau bekerja
sama. Seperti ini sangat pelipa, keras kepala,
dan tidak mau patuh.
2. Masalah
individu
Adapun masalah kelompok
dalam pengelolaan kelas menurut Johnson dan Bany, yakni:
a. Kurangnya
kesatuan, ditandai dengan konflik-konflik antara individu dengan sub kelompok.
Misalnya konflik antara jenis kelamin.
b. Ketidaktaatan
terhadap standar tindakan dan prosedur kerja, misalnya keributan, kegaduhan,
berbicara keras, bertingkah laku yang
mengganggu saat mereka diharapkan bekerja dalam suasana tenang di tempat
duduk masing-masing.
c. Reaksi
negative terhadap pribadi anggota kelas ditandai dengan kesan bermusuhan
terhadap anak-anak yang tidak diterima oleh kelompok, menghalagi usaha
kelompok.
d. Pengakuan
kelas terhadap kelakuan guru.
e. Kecendrungan
adanya gangguan, kemacetan pekerjaan dan kelakuan yang dibuat-buat.
f. Ketidak
mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, seperti memberi
reaksi buruk pada saat ada peraturan baru, situasi darurat, perubahan anggota
kelompok, perubahan jadwal, dan pergantian guru.
g. Semangat
juang yang rendah dan adanya sikap permusuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bahri
Djamara. Syaiful dan Zain. Aswan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Rukmana,
Ade dan Suryana, Asep. 2006. Pengelolaan
Kelas. Bandung: Upi Press .
Drs,
Darwyan Syah. 2005. Guru dan Anak Didik
Dalam Interaksi Edukatif. Strategi
Belajar
Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Materinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik.
BalasHapusMaterinya bagus, dan bermanfaat bagi pendidik dan jugaaa peserta didiknya
BalasHapusPenulisannya rapi dan mudah di pahami👍
BalasHapusterimakasih ilmunya kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat berguna
BalasHapusMaterinya sangat membantu sinta
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus