Rabu, 21 Agustus 2019

Komponen-komponen Keterampilan Manajemen Kelas


TUGAS 5
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Komponen-komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Oleh:
SINTA KHAIRANI UTAMI
1620189
Kelas: 7.5 PGSD
Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019

KOMPONEN-KOMPONEN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS
A.    Pengertian Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelola sendiri akar katanya adalah “kelolah” di tambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “ manajemen” . manajemen adalah kata yang di adopsi dari bahasa inggris, yaitu management, yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.

B.     Macam-macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Keterampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandangan secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaaan , dan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk kedalam ketakacuan. Yang termasuk kedalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawab, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian, penguatan, kelancaran, dan kecepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk kedalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan  pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan diatas akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini:
1.      Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
a.       Sikap tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik  walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
1)      Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
2)      Gerak  mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
3)      Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”. 
4)      Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.

b.      Membagi perhatian
Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan  dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif.  Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
1)      Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
2)      Verbal
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.
c.       Pemusataan perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
1)      Memberi tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.
2)      Pertanggungan jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
3)      Pengarahan dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
4)      Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan. Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
5)       Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
6)       Kelancaran (smoothnees)
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
7)      Kecepatan (Pacing)
Kecepatan disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
d.      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
e.       Menegur
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang memberikan efek  penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
f.       Memberi penguatan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .
2.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
a.       Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
b.      Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
1)      Memperlancar tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
2)      Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
c.       Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
C.    Permasalahan Dalam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Menurut Majid (2007: 144-177) dalam pengelolaan kelas terdapat dua masalah yakni masalah individual dan masalah kelompok. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila guru dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi. Adapun masalah-masalah pengelolaan kelas akan dijelaskan di bawah ini sebagai berikut :
1.      Masalah individu
Masalah individu muncul karena dalam individu ada kebutuhan yang ingin diterima oleh kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi melalui cara yang baik, maka individu yang bersangkutan akan mencari cara lain untuk mencapai kebutuhannya dengan berbuat tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu menurut Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel digolongkan ke dalam empat pont, yakni:
a.       Attention Getting Behaviors. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain. Misalnya membadut di kelas, atau berbuat lamban sehingga memerlukan pertolongan ekstra.
Power seeking, maksudnya adalah tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan. Misalnya selalu mendebat, kehilangan kendali emosional (marah, menangis) atau selalu lupa pada peraturan di kelas.
b.      Revenge Seeking Behaviors, maksudnya adalah tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain. Misalnya menyakiti orang lain dengan perkataan-perkataan yang tidak baik, memukul, menggigit dan lain-lain.
c.       Passive Behaviors, maksudnya peragaan ketidakmampuan, yakni sama sekali menolak untuk mencoba melakukan suatu apapun karena khawatir gagal.
Ada empat tipe tingkah laku yang kurang baik dalam masalah individual ini yakni, bentuk tingkah laku mencari perhatian yang aktif dan pasif. Bentuk mencari perhatian yang aktif bersifat merusak seperti bergaya sok, melawak, mengacau, menjadi nakal, anak yang terus menerus bertanya atau rewel. Adapun bentuk pasifnya yang bersifat merusak seperti pemaksaan ingin mendapatkan perhatian orang lain dengan minta tolong terus.
Tingkah laku untuk mencari kekuasaan hampir sama dengan kasus tindakan di atas, namun sifatnya lebih kuat yakni mencari perhatian yang sifatnya merusak. Pencari kekuasaan yang aktif biasanya suka membantah, berbohong, pemukul, mempunyai watak pemarah, menoloak perintah, dan benar-benar tidak tunduk. Pencari kekuasaan yang pasif adalah orang yang sangat nyta, biasanya tidak mau bekerja sama. Seperti  ini sangat pelipa, keras kepala, dan tidak mau patuh.
2.      Masalah individu
Adapun masalah kelompok dalam pengelolaan kelas menurut Johnson dan Bany, yakni:
a.       Kurangnya kesatuan, ditandai dengan konflik-konflik antara individu dengan sub kelompok. Misalnya konflik antara jenis kelamin.
b.      Ketidaktaatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja, misalnya keributan, kegaduhan, berbicara keras, bertingkah laku yang  mengganggu saat mereka diharapkan bekerja dalam suasana tenang di tempat duduk masing-masing.
c.       Reaksi negative terhadap pribadi anggota kelas ditandai dengan kesan bermusuhan terhadap anak-anak yang tidak diterima oleh kelompok, menghalagi usaha kelompok.
d.      Pengakuan kelas terhadap kelakuan guru.
e.       Kecendrungan adanya gangguan, kemacetan pekerjaan dan kelakuan yang dibuat-buat.
f.       Ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, seperti memberi reaksi buruk pada saat ada peraturan baru, situasi darurat, perubahan anggota kelompok, perubahan jadwal, dan pergantian guru.
g.      Semangat juang yang rendah dan adanya sikap permusuhan.




DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamara. Syaiful dan Zain. Aswan.  2006. Strategi Belajar Mengajar.  Jakarta:  Rineka
          Cipta.
Rukmana, Ade dan Suryana, Asep. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung:  Upi Press .
Drs, Darwyan Syah. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.  Strategi Belajar
       Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

8 komentar:

membina hubungan sekolah dengan masyarakat dalam melaksanakan disiplin sekolah

TUGAS MANAJEMEN KELAS di SD Tentang MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISIPLIN SEKOLAH ...